Perubahan Sosial
Penulis adalah Julia Nanda Septiani, Naysilla Alya Safitri, Novita Nurul Arisetyaningsih, Silvana Febriani, Tananda Daffa Widiarsyahwa, Vania Chelsia Putri, siswa kelas XII F-7, SMAN 1 Jakenan.
A. Pendahuluan
Tulisan ini memuat tentang hasil pengamatan terhadap 6 objek perubahan sosial. Objek yang diamati meliputi pengamatan terhadap arsitektur rumah, pengamatan terhadap perubahan tata ruang, pengamatan terhadap perubahan teknologi pertanian, pengamatan terhadap perubahan pencukupan kebutuhan air, pengamatan terhadap, dan pengamatan perubahan teknologi tenaga ikan. 6 objek perubahan tersebut kami amati dengan teknik pembagian kerja tiap tiap anggota kelompok. Untuk bagian arsitektur rumah diamati oleh Julia Nanda Septiani, yang berlokasi di Jakenan dan Tegalwero, untuk objek pengamatan pasar tradisional diamati oleh Vania Chelsia Putri dengan mengunjungi kecamatan Jakenan, selanjutnya untuk pengamatan terhadap perubahan teknologi pertanian diamati oleh Silvana Febriani di area persawahan daerah kecamatan Jakenan, lalu untuk perubahan pohon jalan diamati oleh Naysilla alya safitri di daerah Kecamatan Juwana, selanjutnya untuk perubahan teknologi tangkap ikan diamati oleh Novita Nurul Arisetyaningsih yang dilakukan di daerah Juwana dan Pati, yang terakhir untuk perubahan lampu jalan dilakukan oleh Tananda Daffa Widiarsyahwa di daerah Jakenan.
Dari 6 objek pengamatan tersebut dilakukan analisis dengan pendekatan unsur-unsur sosial yang berubah. adapun unsur-unsur sosial yang digunakan untuk menganalisis 6 objek yang diduga berubah tersebut, adalah unsur nilai sosial, norma sosial, identitas sosial, ikatan sosial, status sosial, kelas sosial, tindakan sosial, dan kekuasaan serta wewenang. Melalui pendekatan analisis tersebut kemudian ditemukan unsur unsur sosial apa yang berubah dan bagaimana proses perubahannya, dampak perubahan hingga sikap kita dalam merespon perubahan tersebut apakah didalamnya terdapat kearifan atau kerugian. Selamat membaca hasil pengamatan kelompok kami.
B. Pembahasan
-Perubahan Arsitektur Rumah
Suasana Rumah Modern di Jakenan, 16 Agustus Pukul 16.30 di Jakenan (Tananda Daffa Widiarsyahwa, 2024)
Rumah merupakan tempat tinggal keluarga dan orang orang yang memiliki hubungan darah baik segaris maupun turunannya. Ditempat inilah sesama anggota keluarga mendapatkan pola asuh tentang nilai dan norma dalam proses sosialisasi keluarga dan di tempat ini pula setiap anggota keluarga memiliki ingatan bersama yang biasanya di ceritakan kepada generasi berikutnya, kasih sayang, pendidikan hingga tentang bagaimana mereka mengenal tentang agama, rumah menjadi segala rumah yg ada. Rumah mengalami perjalanan (hidup) yang panjang, mulai dari rumah batu (goa), rumah kayu, rumah tembok, rumah baja ringan, hingga rumah digital.
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan pada rumah tradisional milik Mulyono yang beralamatkan di desa tanjungsari, dan pengamatan rumah mewah milik Jumadi yang beralamatkan di desa yang sama, terdapat beberapa beberapa perbedaan diantaranya: bentuk bangunannya, material bangunannya, dan tata ruangnya. Untuk bentuk bangunannya, rumah tradisional berbentuk rumah joglo. Sedangkan untuk rumah modern, bentuk rumahnya yaitu rumah berlantai granit dengan kesan kotak-kotak. Selanjutnya untuk bahan material, rumah tradisional cenderung didominasi bahan dari kayu dan genteng tanah. Adapun rumah modern materialnya cenderung didominasi dari bahan-bahan bangunan diantaranya pasir semen,bata dan besi. adapun pada tata ruangnya hal tata ruangnya rumah tradisional cenderung memiliki tata ruang yang lebih terbuka dan dinamis. berdasarkan hasil pengamatan dari arsitektur rumah tradisional dengan rumah modern tampak terdapat perubahan. temuan ini senada dengan hasil penelitian harpioza (2016) ia juga menemukan telah terjadi perubahan arsitektur rumah khususnya dalam hal bentuk visual dengan demikian fenomena perubahan arsitektur rumah ini merupakan fenomena sosial yang kerap kali terjadi di berbagai lapisan masyarakat.
Perubahan ini juga dibarengi dengan unsur-unsur sosial lainya, perubahan itu dapat dilihat dengan unsur nilai, unsur norma, unsur tindakan sosial, unsur indentitas sosial. Perubahan nilai sosial pada rumah dapat dilihat dari pandangan tentang rumah adat yang dipandang lebih rendah dibanding rumah mewah. mengapa? karena dipandang tidak mengakomodir gaya kekinian, dari nilai inilah mendorong mendapat untuk merubah arsitektur rumahnya menjadi rumah mewah, seiring perubahan rumah tersebut terjadi pula perubahan pada norma sosialnya, penghuni rumah baru cenderung mengikuti gaya hidup kekinian, mulai dari cara makan, cara berpakaian, cara menghias diri, cara berpendidikan, hingga cara mendapatkan perabot rumah tangga dan kebutuhan tersier lainnya. Kebiasaan kebiasaan dahulu semakin lama semakin terkikis dengan hadirnya arsitektur baru, jika dahulu rumah menjadi ruang terbuka untuk sanak saudara dan handai taulan dan tetangga, namun dengan rumah mewahnya mereka cenderung sungkan. Cara saling berkunjung, menjenguk saat sakit, hingga bercakap cakap tidak seperti dahulu, berbeda rumah berbeda cara bercengkrama dan ada tanda-tanda semakin menutup antara rumah satu dengan yang lainnya.
-Perubahan Pasar Tradisional
Suasana pasar tradisional di Jakenan, 14 Agustus Pukul 04.57 di Jakenan (Vania Chelsia Putri, 2024)
Suasana Swalayan ADA di kota Pati, 13 Agustus Pukul 19.30 di Pati (Vania Chelsia Putri, 2024)Pasar merupakan tempat bertemunya pembeli dan pedagang. Lewat tempat ini lah barang, tanaman, makanan terjual. Setiap berkunjung di pasar, semua barang di beli mulai dari kebutuhan pokok dan tidak pokok. Dalam perkembangan waktu, pasar berkembang sesuai kebutuhan. Dahulu pasar ada di tempat yang luas selalu menerima pembeli, siapapun pedagang dan pembeli bisa tertampung. Barangnya fresh harganya juga murah, dan dapat di tawar. Seiring perkembangannya waktu, pasar tradisional dilupakan dan dinilai jorok, harga tidak menentu, kotor dan tidak terurus karena hewan hewan seperti tikus dapat masuk. Sejak saat ini lah pasar modern terbentuk karena tempatnya bersih, rapi, wangi, walaupun harganya melangit. lantas apa saja yang berubah? dan apa saja dampaknya? berikut ini ulasannya. Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan pada pasar tradisional yang beralamatkan di desa Jakenan dan pengamatan pasar modern yang beralamatkan di Sidoarjo, pati, terdapat beberapa perbedaan diantaranya: bentuk bangunannya, metode transaksi, dan harganya. Untuk bentuk bangunannya, pasar tradisional biasanya terletak di ruang terbuka atau bangunan semi-tertutup. Sedangkan untuk pasar modern, terletak di dalam gedung yang lebih teratur dan sering kali di pusat perbelanjaan atau mal. Selanjutnya untuk metode transaksi, pasar tradisional cenderung dilakukan secara tunai dan langsung antara penjual dan pembeli. Pasar modern cenderung lebih bervariasi, termasuk kartu kredit, debit, dan pembayaran digital. Adapun pada harga pasar tradisional cenderung lebih murah, tetapi kualitas produk mungkin bervariasi. Pasar modern Harga biasanya lebih tinggi karena barang berkualitas lebih baik dan adanya biaya tambahan untuk kenyamanan dan keamanan. Berdasarkan hasil pengamatan dari pasar tradisional dengan pasar modern tampak terdapat perubahan. Temuan ini senada dengan hasil penelitian NI Ariyani (2014) ia juga menemukan telah terjadi perubahan pasar tradisional khususnya dalam bentuk visual dengan demikian fenomena perubahan pasar tradisional ini merupakan fenomena sosial yang kerap kali terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Perubahan yang terjadi pada pasar tradisional dan modern yang pertama yaitu: Struktur dan fasilitas, pasar tradisional biasanya terdiri dari kios-kios sederhana yang sering kali kurang terorganisir, sedangkan pasar modern Biasanya berada di dalam bangunan yang lebih teratur dan bersih, dengan fasilitas yang lebih lengkap seperti AC. Perubahan yang kedua yaitu Cara transaksi. Harga barang pasar tradisional lebih fleksibel karena pembeli dan penjual bisa melakukan tawar-menawar, sedangkan harga pasar modern sudah ditetapkan dan tidak bisa ditawar. Perubahan yang ketiga yaitu jenis produk. Pada pasar tradisional lebih fokus pada bahan-bahan segar seperti sayuran, buah, daging, dan produk kebutuhan sehari-hari lainnya. Sedangkan pasar modern Selain menjual bahan-bahan segar, juga menyediakan berbagai produk lain seperti pakaian, elektronik, barang-barang rumah tangga, hingga produk impor. Dampak positif perubahan bagi masyarakat dalam perubahan pasar tradisional dan modern diantaranya dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan, efisiensi dan kemudahan dalam berbelanja, metode pembayaran yang lebih modern. Terdapat dampak negatif bagi perubahan tersebut diantaranya ketergantungan pada produk global, pergeseran ekonomi lokal, dan dapat menyebabkan kenaikan harga lokal. Berdasarkan latar belakang di atas, tulisan ini bermaksud untuk membahas perubahan terhadap pasar tradisional ke pasar modern. Apa saja yang berubah, dan bagaimana dampak perubahannya, di bahas dalam tulisan ini. Selamat membaca.
-Perubahan Teknologi Pertani
Alat pertanian adalah sebuah perkakas yang digunakan para petani untuk memudahkan pekerjaannya agar lebih cepat dan efesien. Dahulu para petani memanen padi dengan cara memotong tanaman padi lalu menggepyok tanaman padi ke kayu untuk merontokkan padi dari batangnya, hal tersebut dianggap menyita banyak waktu dan memerlukan banyak tenaga. Lalu seiring perkembangan zaman ditemukan alat pemanen padi yang dapat sedikit meringankan petani, cara kerja alat tersebut dengan cara dikayuh tetapi tetap saja tidak bisa cepat dan harus dikerjakan oleh beberapa orang. Namun seiring berjalannya waktu teknologi pertanian mulai banyak bermunculan contohnya combine atau alat pemanen padi, cara kerjanya hanya tinggal mengendarai alat tersebut lalu padi akan rontok dari pohonnya. Terbukti alat tersebut lebih cepat dan efisien juga tidak memerlukan banyak pekerja. Para petani sangat terbantu dengan alat tersebut karena tak perlu menggaji banyak pekerja dan pekerjaan lebih cepat, hasilnya pun memuaskan. lantas apa saja yang berubah? dan apa saja dampaknya? berikut ini ulasannya
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan pada alat pertanian tradisional milik pak Sutikno yang beralamatkan di desa dukuhmulyo, dan pengamatan alat pertanian modern milik pak Rico Ardiansyah yg beralamatkan di desa sampang, terdapat beberapa perbedaan diantaranya; bentuk alat, cara kerja alat, material alat. Untuk bentuk alat, alat tradisional terlihat lebih sederhana dan berukuran kecil, sedangkan bentuk alat modern cenderung lebih besar. Selanjutnya untuk bahan material, material alat tradisional menggunakan kayu dan paku, sedangkan alat modern materialnya menggunakan besi dan diesel. Lalu cara kerja kedua alat tersebut, jika alat tradisional perlu dikayuh untuk menggunakan alat tersebut, sedangkan alat modern hanya perlu mengendarai alat tersebut tanpa mengeluarkan tenaga. Temuan ini senada dengan penelitian Ramadhan,R (2023) ia juga telah mengemukakan terjadinya perubahan bentuk cara kerja alat tradisional.
Seiring dengan adopsi teknologi ini, terjadi pula perubahan pada norma sosial dalam komunitas pertanian. Petani yang dahulu mengandalkan metode tradisional kini cenderung mengikuti gaya hidup yang lebih modern, mulai dari cara mereka mengelola lahan, memilih bibit, menggunakan pupuk, hingga memasarkan hasil panen. Kebiasaan-kebiasaan lama, seperti gotong-royong dalam kegiatan pertanian, semakin lama semakin terkikis dengan hadirnya teknologi yang memungkinkan petani bekerja lebih mandiri. Jika dahulu pertanian merupakan kegiatan kolektif yang melibatkan banyak orang, kini teknologi modern memungkinkan petani untuk bekerja sendiri dengan bantuan mesin dan alat-alat canggih. Hal ini mengubah cara petani berinteraksi dan bekerja, serta menandai semakin berkurangnya keterlibatan komunitas dalam kegiatan pertanian. Perbedaan teknologi yang digunakan oleh setiap petani juga menciptakan perbedaan dalam cara mereka berproduksi dan berinteraksi, yang pada akhirnya mempengaruhi struktur sosial dalam komunitas pertanian.
-Perubahan Pohon Jalan
Pohon jalan merupakan tanaman peneduh yg berfungsi menjadi pembatas antara tanah pembatas jalan dengan tanah pemilik yang lain. Dan dalam fungsi turunannya untuk meneduhkan, mengasrikan dan menyejukkan. Pada zaman dulu, pohon-pohon yang ditanam di sepanjang jalan memiliki peran penting sebagai identitas suatu wilayah. Jenis pohon yang dipilih sering kali mencerminkan karakteristik lokal atau budaya setempat. Misalnya, di beberapa wilayah, pohon jati atau beringin dipilih karena dianggap sakral dan memberikan kesan anggun serta kokoh. Selain sebagai penanda identitas, pohon-pohon ini juga berfungsi sebagai peneduh alami, memberikan kesejukan bagi pejalan kaki dan pengendara, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis satwa. Sementara itu, pohon-pohon jalan masa kini lebih difokuskan pada aspek estetika dan panorama. Pohon-pohon dengan bentuk, warna daun, dan bunga yang menarik banyak ditanam untuk mempercantik pemandangan. Pemilihan jenis pohon juga mempertimbangkan pertumbuhan yang cepat dan kemudahan perawatan. Dengan demikian, selain menciptakan lingkungan yang hijau dan sejuk, pohon-pohon jalan sekarang ini juga menjadi elemen penting dalam mempercantik kota dan memberikan kesan modern serta ramah lingkungan bagi para pengunjung. Dampak dari pohon jalan bagi masyarakat untuk keasrian tentunya tidak jauh berbeda dengan yang dahulu, akan tetapi pohon jalan jaman sekarang lebih mementingkan keindahan daripada nilai adat istiadat yang ada. Seiring berjalannya waktu, fungsi pohon jalan mengalami perubahan signifikan. Saat ini, pohon-pohon tersebut lebih sering ditanam untuk tujuan panorama dan estetika, menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan menarik secara visual. Meski peran simbolisnya mungkin berkurang, pohon-pohon ini tetap penting dalam mendukung keseimbangan ekologi dan meningkatkan kualitas hidup di suatu daerah.
-Perubahan Teknologi Tangkap Ikan
C. Penutup
Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis terhadap 6 objek dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan pada 6 objek : perubahan arsitektur rumah, perubahan pasar tradisional, perubahan teknologi pertanian, perubahan pohon jalan, perubahan teknologi tangkap ikan, perubahan lampu jalan telah berdampak terjadi pada perubahan pula pada unsur unsur sosialnya : norma sosial, nilai sosial, identitas sosial, status sosial, kelas sosial, tindakan sosial, kekuasaan dan wewenang, tradisi, ikatan sosial. sikap dan saran sehubungan dengan fenomena perubahan yang terjadi maka hal yang perlu kita sikapi adalah selalu cerdas dalam berinteraksi dengan hal hal yang baru. kita tidak bisa menolak namun kita juga tetap mengingat teknologi hal hal yang mendasar sebelumnya, semoga dengan perubahan sosial yang ada memberikan harapan tatanan sosial yang lebih baik. Terimakasih. Selamat membaca.
Daftar Pustaka
HARPIOZA, O. D. (2016). Identifikasi Perubahan Arsitektur Rumah Tradisional (Doctoral dissertation, UAJY).
Ariyani, N. I., & Nurcahyono, O. (2014). Digitalisasi pasar tradisional: Perspektif teori perubahan sosial. Jurnal Analisa Sosiologi, 3(1), 1-12.
Pradana, A. W. (2021). Modifikasi Lampu Jalan Di Desa Dolok Merawan Dari Teknologi Hpln Ke Led Untuk Membantu Dalam Penerangan Jalan.
Enrico, M., Chrismianto, D., & Santosa, A. W. B. (2017). Analisa Stabilitas dan Olah Gerak Kapal Ikan Tradisional Terhadap Penggantian Alat Tangkap Cantrang Menjadi Bottom Longline Untuk Daerah Batang. Jurnal Teknik Perkapalan, 5(4).